Vandana Shiva dan Gerakan Chipko

marsinahfm

Image

Mengapa India tidak bersuara?

Apakah India kehilangan jiwanya? Apakah India tertidur?

Tidak, India terjaga oleh pria pekerja keras

Dan oleh para ibu rumah tangga yang sedang menyalakan kayu bakarnya

India terjaga oleh air mata dan tawa kaum miskin

Untuk jiwa India, kesejahteraaan adalah kemiskinannya

Jiwa kemerdekaannya,

Dedikasinya atas kebenaran,

Untuk suaranya yang datang dari yang terdalam

Satu-satunya kebenaran Dewa yang termanifestasi

Dalam setiap batu dan pohon

Dan tinggal dalam hati setiap orang

 

Penggalan puisi di atas adalah karya Imam Bulu yang ditujukan bagi Vandana Shiva. Vandana Shivalah suara yang dimaksud Bulu Imam, seorang feminis, filsuf yang aktif menyerukan perlindungan lingkungan dan perempuan. Kepada rakyat India, Shiva kerap menyerukan Peluklah Pohon – Pohon Kita yang kemudian melahirkan gerakan Chipko.

Apakah gerakan Chipko itu? Bagaimana kehidupan perempuan India ini? Kisahnya akan menemani sabahat marsinah di Perempuan Pelita edisi 26 bersama saya, Meme/Dias, selama 1 jam ke depan di Marsinah 106 FM…

View original post 2,160 more words

Halo, Adil

Adil. Suatu kata sarat makna yang mampir dan singgah di pikiran selama beberapa lama. Tidak seperti dulu, kata adil hanya masuk untuk keluar lagi entah dalam bentuk cuap-cuap panjang di lembar ujian pelajaran kewarganegaraan atau bentuk lainnya. Sekali ini, kenapa engkau seperti virus yang menggerogoti sebagian kecil dari otak untuk berpikir keras? Ah, coba saya bagikan sedikit virus agar saya tidak berpikir sendirian.

View original post 902 more words

Rasa Rendang dan Tempe Sama Saja

Apa yang baik bagimu, belum tentu baik menurut Allah. Apa yang buruk bagimu, belum tentu buruk menurut Allah. Kita, manusia, terlalu lama terjebak dalam peradaban materialistis.

Hayyin, layyin, qarib, dan sahlun! Sikap yang hanya bisa lahir jika dunia ada di tangan, sedangkan hanya Allah yg boleh ada di hati. Konsep ini bisa lebih mudah dipahami dengan praktek mengubah mindset lalu membiasakan diri. Mindset kita yang materialistis ini jelas bisa diubah, dan kalau saya sendiri, menggunakan pendekatan ilmu tasawuf untuk mengubahnya. Mungkin bisa dimulai dengan buku tasawuf modern Buya Hamka

yulianemonic

Terhitung sejak aku mendapat kesempatan hidup empat bulan selama ekspedisi, cara pandangku terhadap dunia mulai berubah. Sebelum mengikuti ekspedisi aku akui, aku sangat ambisius dan keras kepala. Semua yang aku inginkan harus segera terwujud, jika tidak kekecewaan dalam hati yang menang. Jiwa koleris kalah dengan melankolis berkepanjangan. Misalnya saat ujian, dimana aku dan teman-teman belajar kelompok dan aku ingat kami menghapal semua “mantra” itu bersama-sama. Namun mengapa nilaiku masuk rata-rata bawah? Jelas hal ini sangat telak memukul kenyataan bahwa dulu aku cukup cemerlang diantara kecemerlangan teman-teman SMAN 5 atau SMPN 1 Surabaya. Lagi-lagi aku kecewa dan terus merutuki diri sendiri.

Namun titik balik itu datang, di ekspedisi aku bertemu dengan orang-orang yang berbeda dari orang-orang yang disebut sebagai calon pemimpin bangsa selama ini. Orang-orang yang aku belum pernah bersentuhan secara langsung sebelumnya. Merekalah para pecinta alam atau bukan pecinta alam tapi orang yang mudah bersatu dengan alam. Aku menemukan inilah…

View original post 542 more words

Bergabungnya 2 INTP

Yang jelas Ti (introvert thinker), entah keduanya ISTP, salah satu ISTP or dua-duanya INTP. Haha!

yulianemonic

Suatu hari ada seorang teman lama yang sempat “tenggelam” tiba-tiba menghubungi via whatsapp. Sebenarnya kami bahkan dulu hanya sebatas saling tahu dan tidak terlalu kenal dekat. Setelah akhirnya kami bertemu dan mengobrol panjang lebar, akhirnya dia mengatakan bahwa dia menghubungiku setelah membaca cerita-ceritaku di blog ini. Terima kasih blog, sudah menyambung silaturahim yang terputus. Singkat cerita, ternyata Timy dan aku sesama berdarah INTP.

Berteman dengannya seperti berdiri di depan cermin dan menertawakan diriku sendiri. Ya, sedikit banyak (cukup banyak) kecerobohan dan semua karakterku hampir ada padanya. Setelah sekitar beberapa hari kami menginap di kosan Nona Astin, semakin aku menyadari sekacau itu kehidupan seorang Monic dilihat dari hidup Timy *haha maaf, Tim..*

Sebagai intro, kami sama-sama belum mahir memasak. Sedangkan pagi itu Timy mengajak memasak pastry, aku mengangguk lalu segera menyelamatkan diri dengan beralih ke bagian mecuci piring. Ia yakin bisa menduplikat resep Nona Astin saat memasak pastry kemarin. Namun saat…

View original post 503 more words

Komedi Putarku

Tak bisa aku bercerita tentang hidupku tanpa menyinggung bahwa aku pernah sekolah di pesantren. Sedikit sekali orang yang tau bahwa aku pernah menjadi santri.

Singkatnya begini, sebelum aku kuliah di ITB, aku yang berbakat nakal (baca: kreatif) ini disekolahkan oleh orang tua ke ‘Pesantren Modern’ dengan harapan bisa ‘membendung’ bakat nakal ini dan bisa menjadikanku anak sholeh, namun juga tak ktinggalan ilmu dunia. Di Pesantren, 80% hidupku disana adalah kenakalan, diakhiri dengan 20% kebaikan, alhamdulillah. Singkat cerita, pesantrenku adalah pesantren tarbiyah, jadi outputnya adalah mencetak da’i yang berafiliasi terhadap tarbiyah. Namun untuk beberapa lulusan yang pernah bandel banget sepertiku, bisa lulus dan jadi orang baik aja udah alhamdulillah.

Selama di pesantren, aku dikenal sebagai seniman. Kebetulan berdasarkan hasil tes dan apa yang aku kerjakan sehari-hari dulu, memang menunjukkan bahwa otak kanan dan kreativitasku sangat dominan. Disana, aku menghabiskan waktu untuk menggambar, di eskul- eskul kesenian. Ga akan ada mahakarya angkatan, yang ga ada aku disitu. Dalam menggambar, aku suka memvisualisasikan desainku, biasanya rumah, rusun, desa, atau baju untuk perempuan, dari baju main, resmi, sampai wedding dress. Akungnya semua hal tersebut hilang. Seiring dengan aku yang tak pernah menggambar lagi, hingga hari ini. Selain itu, aku juga suka baca buku, walau memang cimpi jika dibandingkan anak seumuran aku di sekolahan lain. Bacaanku, mostly genre komik, novel, dan ‘how to’. Aku suka One Piece, dan Naruto. Kadang aku merasa, bahwa aku naruto. Temanku juga mengamini saja, mungkin karena sama bodohnya ya, hahaha. Kalau novel, aku baca Agatha Cristie, Sidney Sheldon, Paulo Coelho, Dan Brown, JK Rowling, Conan Doyle, trus ya beberapa novel ala anak perempuan yang suka bikin nangis- nangis gitu (baca: teen-lit). Jadi kerjaan aku dipesantren selain sekolah (baca: bolos), gambar, baca, dan kabur dari pesantren untuk jalan- jalan ke desa, sampai-sampai warga desa banyak yang mengenaliku, saking seringnya kabur. Lucunya, aku kabur selalu dengan teman yang berbeda-beda.

Ceritanya, suatu hari, semua komik, poster, dan bukuku dirazia. Masuk dalam kategori bacaan dan gambar jahiliah. Aku kesel tapi yaudah lah. Seminggu kemudian setelah bukuku diambil, aku lalu balas dendam ke pondok dengan membuat grafitty berukuran kira-kira 2,5 m x 1,5 m di tembok kelas. Ujung-ujungnya aku berantem sama Penjaga Sekolah, dan disuruh ngecat ulang semua sampai putih. Hiks.

IMG_0361

Entah apa ini namanya, bersama anak-anak sholehah di pesantren

IMG_0358

Saya dengan sahabat saya, Rifqi, bergantian menyembur obor.

Singkatnya, di akhir cerita, aku lulus dari pesantren diluar ekspektasi (ngga dikeluarin, setelah tiap tahun selalu hampir dikeluarin), dan alhamdulillah diterima di ITB. Malah sebelum aku ke kampus, aku dihadiahin beberapa paket buku Hasan Al-Banna oleh guru- guruku. Alhamdulillah bukunya khattam aku baca. Dan itu jadi bekalku selama aku di kampus. Aku ingat banyak, tapi sayang kebijaksanaanku belum sampai.

**

Sebagai bagian dari keluarga yang berlatar belakang Islam Non-Blok, dan pribadi yang ga pernah baca buku- buku berwawasan Islam (selain buku hadiah dari guru-guruku), saat lulus dari pesantren, aku ga punya banyak gambaran tentang Islam selain seperti yang digambarkan di pesantren. Anak kurang referensi. Dan jujur saja, aku bukan anak yang berbakat skeptis. Aku mah nikmatin aja anaknya, gamau ribet. Dalam beraktivitas juga gitu. Pokoknya semua terlihat sama aja dimataku. Dan aku, menjalani awal- awal kuliah dengan mindset masih sempit, intelektualitas rendah karena tidak bisa mendiferensiasikan apapun, dan ikut apa aja, temenan dengan siapa aja, tanpa skeptis sama sekali. Ya hepi aja lah, kuliah di ITB gausah dibikin susah, ujian aja udah susah, duh.

Aku orangnya sangat simpel, kalo mau dibilang honest to fault, jadi cukup mudah bergaul (dengan orang kebanyakan). Di sisi lain, kurangnya isi kepalaku dan ketiadaan prinsip yang solid membuatku mudah terpengaruh atau terdoktrin. Kata temanku, itu pengaruh kurangnya kepedihan dalam hidup, katanya hidupku kelempengan. Yep, bisa dibilang awal- awal hidupku di kampus, aku hanya menjalani hidup dan lakon yang ada di depan mata.

Di awal kuliah, aku bertemu dengan mentri kastrat, aku TPB dan dia 2007. Aku ukur aja gap-ku dengan dia, oh jauh banget. Aku bertemu dengan teman sebayaku, gap-nya macem- macem, yang jelas tim hore kayak aku banyak, tapi yang menurutku dia jelas tau banyak ya juga banyak. Dan aku putuskan, akan mengejar ketinggalan.
Jika intelektualitas adalah kemampuan mendiferensiasi sesuatu, aku tidak punya intelektualitas itu. Aku tidak memiliki pisau analisis, tidak memiliki referensi, dan mode berpikir kritis aku amburadul. Secara perkembangan intelektualitas, aku bisa bilang baru mulai di ITB. Aku mulai banyak baca buku, dan ngobrol dengan orang- orang yang menurut aku pintar. Kebijaksanaan aku memang belum sampai kepada apa yang aku baca dan mereka bicarakan, namun informasi yang aku dapatkan dari buku, pelan- pelan membuat aku memiliki referensi. Dari referensi, aku mulai bisa mendiferensiasikan sesuatu, dan mulai bisa mengidentifikasi masalah. Kemudian, di tahun berikutnya, aku mempelajari pisau- pisau analisis. Tapi aku belum kritis juga dari segi pikiran, Oh God.

Tapi dari segi hati ya. Dibilang aku ini honest to fault, bakatnya otak kanan, seniman. Apa- apa pake dirasa. Kebayang lah ya, orang baru pertama melihat sebagian kecil dunia, noraknya kayak apa. Plis gausah dibahas, malu abad 21. Bahkan aku punya natural enemy saat TPB gara- gara soal ini, he thinks of me ‘norak’. Ya, jadi kalo dulu yang ketemu aku jaman- jaman itu, sampai beberapa waktu setelah itu, kayaknya aku masih sebodoh itu, bodoh abad 21 hehe. Harap maklum dan maap aja yak hehe.

Beruntung lah aku cukup introvert secara intuitif dan cuek masalah hati, teman dan yang gitu- gitu (saat itu). Jadi aku masa bodoh dan ringan aja melangkah kemana-mana sesukaku. Jadi maju- maju aja belajar ini itu hehe. Sebagian teman-teman pertamaku di ITB ngga terlalu cocok, karena menurut mereka aku terlalu drastis. Tapi, aku yang suka sok pujangga ini, mengutip ‘anjing menggonggong kafilah berlalu’. Siapa anjing siapa kafilah ya haha. Oh Tim, parah banget.

Singkat cerita, semakin banyak referensiku, semakin luas spektrum pergaulanku, semakin banyak ‘anak nakal’ yang aku kenal, semakin terasah pisau analisisku, dan mode kritisku mulai terbangun, aku mulai bisa mendekonstruksi pikiranku, dan menilai sendiri apa yang selama ini aku percaya. Namun aku masih berada dalam tempurungku hari itu. Aku masih belum bisa mengambil keputusan untuk mendobrak diriku sendiri.

Yang jelas, aku mulai menyadari, bahwa nilai- nilai dalam diriku, makin lama makin tak sesuai dengan nilai yang aku percaya (disediakan untuk dipercaya). Akhirnya aku bersikap, kira-kira seperti ini:

1) Mempercayai bahwa Islam Rahmatan Lil Alamin, dan Allah Maha Pengasih. Kita sebagai manusia harus selalu adil, kepada semua manusia lainnya ciptaan Allah, karena Allah aja mengasihi mereka masa kita tidak. Kemudian, aku menunjukkan aku lebih memilih mendidik (waktu itu danlap acara kampus besar) yang kebetulan berbeda keyakinan agama denganku, dibanding apa yang disodorkan kepadaku. Bagiku, itu adalah sikapku, nyatanya kualitas kepribadian dan kerendahan hati orang yang kupilih, aku akui hingga sekarang. Aku tidak menyesal.

2) Mempercayai bahwa mengutamakan kepentingan orang banyak, jauh lebih penting dibandingkan kepentingan kelompok/ sebagian manusia. Dulu, aku pernah mempercayai bahwa kelompokku adalah cahaya Tuhan yang diturunkan untuk memperbaiki peradaban manusia. Tinggi hati adalah pangkal kebodohan, dan jadilah aku bodoh. Sampai jalan hidup yang aku pilih sendiri membuka mataku, bahwa hal itu salah. Sangat salah.

3) Tidak suka penggunaan dalil keras kepada orang kafir dan lembut kepada sesama mukmin digunakan dalam perang- perang argumen orang Islam. Ini golongan apapun ya, karena aku rasa, banyak yang arbiter mencaplok ayat tersebut untuk kepentingannya sendiri. Padahal, mungkin kalau kita yang mementingkan diri sendiri, kita yang kafir. Inkar kepada kebenaran, inkar kepada keadilan. Inkar kepada akal dan hati, yang seharusnya fitri.

4) Aku kesal aku bodoh dan tidak terbuka, maka aku putuskan membuang segala hal yang pernah aku percaya dan memulai hidupku lagi, dari nol.

**

Aku bukan tipe orang yang bisa menjalani hidup yang tidak aku inginkan. Walau dulu aku bodoh, aku selalu berusaha independen dan bebas. Aku tak bilang lingkunganku yang dulu salah, tapi ini semata karena nilai individu dan caraku memandang sesuatu yang sudah berubah, bukan karena kebenaran yang dulu aku percaya. Pada dasarnya ilmu itu netral, namun bagaimana manusia menggunakan dan menghayatinya saja. Dan aku ini tipe orang yang sangat serius, aku tak bisa menjalani dua prinsip yang berkebelakangan sekaligus. Aku tak bisa tak punya sikap terhadap hal yang akan aku jalani. Aku tidak bisa menjalani sesuatu tanpa keyakinan didalamnya.

Kita manusia ini kecil. Hanya menjalani takdir Tuhan dalam hidup. Mati itu pasti. Tapi apa yang kita lakukan selama hidup yang menjadi pembeda. Aku pernah mikir kalo gitu semua orang mau mati atau hidup kayak gimana, pada akhirnya sama aja. Aku pernah berpikir untuk tidak percaya kepada Tuhan saja, namun aku bukan orang yang bisa tenang jika habis mati lalu hidupku berakhir begitu saja, walau misal nanti aku dikenang. Aku ingin ada kehidupan setelah kematian. Tapi hanya jalan hidup Ber-Tuhan saja yang mempercayai ada kehidupan setelah kematian. Aku lalu harus meminta hal itu kepada Tuhan. Lalu Tuhanku, tuhan yang mana? Bukan urusanmu.

Saat ini Islam baru kujadikan metode dan pendekatan untuk memahami Tuhanku, tanpa bermaksud mengecilkan arti Islam. Aku memang belum mengerti dan selesai dengan konsep agama. Saat ini aku berada dalam kedangkalan pemahaman bahwa agama baru sebagai instrumen yang membantuku mengenali Allah.

Aku percaya, Iman itu ada bahkan sebelum adanya agama (semakin kuat ketika aku juga membaca buku Buya Hamka). Semoga suatu hari aku bisa punya pemahaman yang baik tentang ini.

Aku tidak terlalu ingat dari mana awalnya ketika aku dipertemukan dengan tasawuf, dan mendengarkan ceramah- ceramah sekaligus membaca buku Emha Ainun Najib, Mustafa Bisri, Hamka, dan Quraish Shihab. Aku juga kembali dekat dengan salah satu temanku di pesantren, yang ketika di pesantren pun, dia tempatku bertanya masalah agama. Aku yang selama ini makin lama makin bingung dengan konsepku sebagai manusia beragama, dan sikap orang beragama lainnya, mulai menemukan arah.

Aku wudhu. Meminjam bahasa Cak Nun, aku wudhu akal, batin, dan jiwaku. Pertama dengan mencoba memahami Allah melalui Al-Qur’an. Pertama baca qur’an dan terjemah saja. Alhamdulillah menenangkan. Namun disisi lain, masih banyak terjemah yang aku lewat karena aku tak paham. Mau tak mau, aku harus membaca buku tafsir, tapi belum. Kemudian, aku membaca siroh nabawiyah, bukan untuk tau sejarah Nabi, namun lebih ke bagaimana beliau berpikir dan berperilaku. Muhammad memang sesuatu, dan yang paling menonjol adalah ketenangan dan sifat lemah lembutnya, sedangkan aku kebalikannya.

Apalagi kalau dengar ceramah Cak Nun, berasa dikulitin. Aku muslim? Manusia aja bukan. Dari buku- buku Cak Nun, aku mulai mengubah cara pandangku terhadap Allah. Entah mengapa aku rasa Allah lebih dekat, manusiawi, dan masuk akal dibanding dengan selama ini Allah yang berasa distance bagiku.

Buku ‘Tasawuf Modern’-nya Buya Hamka sangat membantuku dalam membantu bagaimana seharusnya kita beriman dengan baik, untuk bagaimana tak usah takut untuk berpikir dan mencari tau tentang Allah dan mengenal Allah, selama kita tulus dan tidak inkar. Buku ini pas jika dibarengi dengan buku- buku Cak Nun, yang mengajariku bagaimana untuk menjadi Hamba Tuhan yang baik dalam menjalani takdir, mengenal Allah dari sisi yang tak pernah aku bayangkan, dan aplikatif melatih hatiku untuk me-remeh-temeh-kan urusan dunia.

Kalo dulu temanku bilang aku suka terlalu serius dan ga bisa menerima kegagalan dan masa lalu, alhamdulillah sekarang aku sudah bisa mulai melihat hidupku seperti menonton TV, kadang menertawakannya. Tapi kadang masih terlalu malu sih, untuk mengingat dan menertawakannya. Itu aib. Tapi namanya hidup, kalo kata Pakde ku yang Doktor dibidang Filsafat/Hukum Islam (aku lupa tepatnya), bilang bahwa hidup yang kita jalani tak mubadzir, dan teruslah berkontemplasi.

**

Aku bersyukur, aku pernah belajar di tarbiyah. Tanpa aku pernah belajar disana, aku ga pernah bisa meloncati apa yang aku percaya untuk pertama kalinya. Ini bukan cerita tentang tarbiyah, tapi bagaimana perjalanan seorang manusia mendobrak apa yang ia percaya, dan mempertanyakan apa yang menurutnya tak sesuai dengan nilai yang ia percaya. Setiap manusia, pasti berbeda kan, tergantung dengan jalan hidup yang dijalaninya dan ilmunya. Aku terlalu dangkal untuk menjadi da’i harapan sekolahku. Aku juga terlalu dangkal dan tak pantas untuk menamai dirku aktivis dakwah. Aku memilih turun kelas, sehingga bisa belajar islam dari awal, mengeja dari awal, dengan insyaAllah kesadaran penuh dan mawas diri yang cukup dalam mempelajarinya.

Ulul Albaab <3

Ulul Albaab ❤

Aku bersyukur, aku pernah berada di MTI. Dengan iklim yang tenang dan hangat, aku mulai melangkah keluar dari zona nyamanku, dan mulai menerapkan sikap-sikap pribadiku yang berbeda dengan apa yang ‘seharusnya’. Dengan lingkungan yang tenang, aku mulai mencoba membangun independensiku, bersikap lebih manusiawi, dan menjadi kakak yang baik. Yang membebaskan adik-adiknya, just show them the ways, and let them think and choose.

KIK-TS!

KIK-TS!

Salah satu kecelakaan paling indah dalam hidupku adalah, aku tak sengaja menjadi menko eksternal di kabinet. Ini kecelakaan, karena orang- orang kompeten untuk jadi menko eksternal tidak mau menjadi menko. Kemudian, mereka mendorongku dengan dalih agar aku belajar, mereka janji akan membantuku. And they did. Kemudian, Tuhan juga mempertemukanku dengan mentri-mentri yang secara struktural bekerja dibawahku, namun dari segi kompetensi, melebihiku. Untung aku hanya koordinator yah.

Awal- awal aku ketemu mereka, aku hanya berpikir, kemana aja aku selama ini………….

Dari segi kajian, aku kalah jauh dibanding mereka. Di ITB, bisa dibilang, sebelum di kemenkoan, aku cuma belajar di tarbiyah, kabinet dan MTI. Di tarbiyah, porsi aktivitas bukan pada mengasah mengasah kapak, tapi menghabiskan waktu untuk menebang pohon. Setiap mau dalam, kebanyakan dikader diaktivitas, jadi agak sulit. Di kabinet, aku berusaha menyerap referensi sebanyak-banyaknya agar aku bisa mendiferensiasikan dan mengidentifikasi sesuatu. Sedikit-sedikit belajar mengenali pisau-pisau analisis. Di MTI, aku mempelajari pisau analisis lain dengan belajar mengenai model, sistem, dan mencoba memahami kapitalis thingy. Yep, tapi ternyata, referensi, dan pisau analisis yang banyak tidak bermanfaat atau tepat guna kalau tak realis. Eh ternyata, pisau analisisku memang belum canggih deng. Pisauku kalah canggih ya dibanding teman-teman di kemenkoan. Kalah jauh lagi, heuu.

Malam-malam berikutnya, ga jarang aku mengalami malam- malam pembantaian ide dan konsep. Malam-malam dimana konsep yang baru kupahami dites dengan cara menyebalkan. Namun dengan itu, sedikit-sedikit aku mulai mengejar ketinggalan. Untungnya, mentriku mau bersabar dengan aku yang kayak orang lagi PMS tiap hari.

Ngomong- ngomong PMS tiap hari, dulu aku memang terlalu serius dan kurang piknik. Saat UU MD3 disahkan, aku menangis karena sedih gabisa berbuat apa- apa. Mungkin mereka heran; “ngapain tu anak nangis?”. Kemudian mereka tidak menghiburku, tapi menyadarkanku dengan sudut pandang dan cara berpikir yang seharusnya. Kalo gitu terus, aku ga bisa ‘hidup’, kata mereka.

Berkat mereka, sampai hari ini aku juga terus memikirkan term ‘keadilan sosial’. Kemudian, selaras dengan perjalanan spiritualitasku hari ini, mungkin entah sampai kapan, aku ingin bisa memahami makna itu suatu hari nanti dalam kacamata bagaimana Tuhanku memandangnya. Aku selama ini tak solid, jadi kadang plin plan tentang hal itu. Aku yakin nilai- nilai Tuhanku transenden, dan memang adil, juga damai. Mungkin kedepannya, aku akan kembali belajar ekonomi dari nol ya. Aku harus wudhu pikiran juga dalam hal ekonomi, dan tentunya juga akan mencari tentang ekonomi dengan konsep Tuhan, It is a must. Semoga sebelum mati nanti, aku punya kesempatan.

Hal yang paling menarik, kalau dilihat- lihat dari segi komposisi, mungkin perpaduan kemenkoan eksternal ini unik. Berdasarkan political compass, semua kuadran kita ada. Berdasarkan tuduhan ideologi/ kecenderungan berpikir, dari mulai kapitalis, kuminis, sosialis, islam kiri, humanis-phylantropis, tarbiyah, pragmatis, oportunis, ada semua. Disini, aku juga ingat bahwa kita ga pernah, bahkan ga mau nyari titik tengah dengan cara ‘kompromi’. Yang kita usahakan jadi output selalu mana yang paling benar dan kontekstual saat itu.

Tak harus menurunkan standar kebenaran untuk berjuang bersama, selalu ada hal terbaik yang bisa dilakukan dalam sempitnya opsi, dan mufakat itu bisa dicapai.

Kurang Obot (Obot lagi nyari duit buat beli saham ke Papua)

Kurang Obot (Obot lagi nyari duit buat beli saham ke Papua)

Kurang Danang, abis dia 2011 sih ya haha *alesan jaka sembung lagi bawa golok*

Kurang Danang, abis dia 2011 sih ya haha *alesan jaka sembung lagi bawa golok*

danang dan obot

danang dan obot

Mereka rata-rata orang NT dan ST, dengan referensi yang banyak dan pisau analisis yang tajam. Mereka juga realis, bukan tipe-tipe kajian di kampus saja seperti aku dulu. Jadi, hatinya juga sangat peka, tak hanya berpikir saja. Mereka juga bukan tipe orang yang tak mau turun gunung dari keasikan berpikir dan buku atau menjadi langit. Mereka turun untuk apa yang mereka ingin selesaikan masalahnya. Mereka juga sanggup menyampingkan ego pribadinya, bahkan disalahpahami pun tak masalah jika memang hal itu harus dilakukan. Kalo konsepnya dunia ini ada di tangan dan bukan di hati, kayaknya udah sampe kesana deh mereka. Setidaknya, dunia yang dulu mereka jalani di kampus.

Apa yang aku pelajari satu setengah tahun kemarin, tak akan aku lepas. Persaudaraan dengan mereka juga. Semoga bisa selalu menjadi merdeka, independen, tetap mempunyai sikap sekaligus watak dialogis, dan semakin mawas diri.

Aku berharap, di masa depan, di Indonesia yang multi golongan ini, kepentingan bersama menjadi segalanya dibandingkan kepentingan golongan. Dimana kepentingan orang miskin menjadi prioritas dibandingkan kosmetik politik. Dimana agama itu sampai ke hati, tidak sekedar apa yang tertera di KTP atau bajunya saja.

Hidupku baru mulai lagi. Aku sebentar lagi memerdekakan diriku dari sesuatu yang menjagaku bisa cukup nyaman untuk uzlah dan refleksi, memampatkan apa yang selama ini kudapat, sekaligus membersihkannya. Aku butuh situasi yang tenang dan kalo bisa, no one knows me banget kalo udah begini. Setelah bertahun-tahun hidup sangat ramai, masa down-time yang ku butuhkan, sudah hampir 9 bulan. Semoga, aku bisa memulai lagi hidupku dengan lebih baik. Amin.

Now i’m ready to go, insyaAllah.

Waktunya mengakhiri kesunyian, segera sidang dan kembali berkarya secara nyata, dengan lebih waras dan mawas.

Zahra Sodik.

PS: Tulisan ini dibuat awalnya untuk bisa masuk grup Liberal Arts di FIM, tapi jadinya:

  • Untuk kedua orangtuaku, adikku, yang selalu menghormati privasiku dan sifat introvert-ku. Terutama adikku yang ingin mengetahui lebih jauh tentang kakaknya, ibuku yang selalu mendoakanku, dan ayahku (aku memanggilnya abah), yang selalu percaya penuh kepada anak pertamanya
  • Untuk sahabatku yang selalu menemaniku dengan hatinya yang lembut, saat aku beriman atau tidak, saat aku keras atau lembut, saat aku bodoh atau terbuka
  • Untuk Sodaraku di kemenkoan eksternal, yang ketemu di jalan di satu setengah tahun terakhirku, yang completely memberi pengaruh yang sangat besar untukku. Terimakasih atas pembelajarannya, mengenalkan dunia yang sesungguhnya kepadaku, dari arus bawah, sampai mufakat dari sudut pandang yang sama sekali berbeda, demi kebenaran  yang seharusnya diperjuangkan
  • Untuk adik-adik dan sahabatku di MTI dan Keraton yang selalu menjadi tempat pulang yang hangat ditengah dingin dan kejamnya dunia
  • Untuk saudara-saudaraku di Ulul Albaab, khususnya teman-teman yang sudah aku kenal sejak TPB dan mengenal bagaimana aku berpikir dari saat aku pertama kasuk, dan khususnya lagi saudaraku di Kontrakan Ceria yang pernah menjalani hidup bersamaku, justru saat aku berada di titik- titik kegelapan hidupku
  • Untuk sahabat- sahabat perempuanku baik di ITB ataupun dari pesantren, yang aku baru punya beberapa bulan kebelakangan ini. Aku senang bisa mengenal dan dipersilakan menjadi sahabat dan saudara bagi wanita- wanita sehebat kalian.
  • Untuk guru-guruku selama di kampus (yang ketemu di kabinet, kepanitiaan, atau mentoring), dipesantren, khususnya ibu yang pernah mau menyambangi aku setiap sore hari hanya karena percaya aku memiliki setitik kebaikan, kemudian kakak-kakakku di FIM yang banyak menjadi tempatku berkonsultasi hehe
  • Untuk kedua sepupu kesayanganku, sepantaranku. Kemudian sepupuku yang lain yang tak bisa aku sebutkan satu-persatu, juga Bude, Pakde, Uwa, Mang, Om, Bibi, Aa, Mas, dan segala keluarga besarku lah pokoknya haha 😀
  • Untuk SMP Ngaglik dan SERU yang kadang kena getahnya aja kalo aku kumat galaknya dan terkadang tak menjelaskan maksud dengan cara yang lemah lembut, maapin akooh 😦
  • Untuk teman-teman yang accidentally kita jadi teman baik karena satu kegiatan, selama di kampus
  • Untuk dosen pembimbingku, yang mengajarkan aku untuk lurus, bertanggung jawab, tidak semaunya, dan membantuku melihat segala kekuranganku ketika kepalaku lagi besar-besarnya, dan akan aku temui besok/ lusa tergantug adanya di lab. Terimakasih atas segala waktu dan toleransinya terhadapku. Semoga saya bisa segera bergabung dengan barisan logistician dan transporter lainnya dan menunaikan cita- cita Bapak!

Dan tentunya anak- anak Liberal Arts, salam kenal, semoga cukup menggambarkan yah!

Now i’m ready to go, insyaAllah.

Surat buat Timmy

Pertama, aku masih suka tidur pake mukena. Ibuku juga udah ingetin 1000 kali. Tapi aku suka aja, karena hangat, hehe.

Kedua, aku ramadhan ga makan mie instant sama sekali nggit. Dan semenjak aku udah bisa bikin sop dan nasi goreng, aku ga tertarik lagi sama mie. Jarang bgt makan mie, orang masak yg lebih enak udah bisa :p.

Ketiga, kunci kosan masih sering lupa bawa

Keempat, kamarku udah rapih karena setiap barang sudah teralokasi tempatnya. Dan aku rajin beresin kamar, apalagi kalo inget muka kamu yang sedih bgt kalo kamar berantakan haha. That’s my way to treasure our memories :p.

Kelima, aku udah ga takut hantu lagi, udah biasa aja semenjak hampir 9 bulan hidup sendirian.

Masalah aku kecanduan dengan hp dan tab nggit, aku bahkan skg sering dikutuki karena jarang2 liat hp :p.

Sampai ketemuu!

Rumahku, Istanaku

Ini tepat hari malam ketiga aku di kosan baru, Tim! Aku belum nunjukkin kamar baruku yang sekarang kan ya? Serba PINK Tim! Hehe. Nih aku kasih lihat yaa..

Kamar kosan baru! PINK Kamar kosan baru! PINK

Korden, lampu belajar, bunga yang dipajang di meja belajar yang ga kefoto, juga warna pink lhoh Tim hehe. Aku jadi inget kalau kamu tuh sebenernya penyuka pink juga hehe *sengaja ngebocorin*. Dan parahnya aku baru tau setelah insiden aku bermaksud menjadikan hak milik pribadi pulpenmu yang warnanya pink. Terus ga taunya, eh kamu malah jawab, “Ntar aku beliin yang baru aja ya Git”. Aku jawab kenapa dan ga usah beli baru lagi. Kamunya senyum-senyum dan mengakui bahwa sesungguhnya kamu penyuka pink juga.

Kamarku yang sekarang memang ga sebesar kamar ‘kita’ yang kemarin sih Tim. Kamar kemarin yang super PeWe banget buat ditempatin. Rasanya susah banget buat move on dari itu kamar. Bed nya yang super luas, yang luasnya…

View original post 1,730 more words

Cahaya Kelembutan yang Mengikis Hitam

Dia ini, hanya manusia dengan sejuta keburukan. Topengnya bisa jadi baik-baik saja dalam pandangan peradaban materialistis, atau mungkin hanya sedikit cacat. Tapi ketika ia memandang darinya sendiri dengan kacamata Tuhannya, kacamata kebajikan, maka sesungguhnya dia tak lebih dari manusia dengan sejuta keburukan.

Untuk manusia dengan sejuta keburukan dan terlalu naif ini, Tuhan mengirimkan setitik cahaya dan kenyamanan. Tuhan tau, bahwa anak dengan sejuta keburukan itu, baru memulai hidupnya. Tuhan tau, bahwa anak dengan sejuta keburukan itu, akan menjalani awal kehidupan dengan penuh kegelapan. Kegelapannya, adalah kebodohan. Itu adalah aib, yang bahkan si anak dengan sejuta keburukan itu tak ingin mengingat masa lalunya.

Tuhan tau, bahwa anak dengan sejuta keburukan itu, membutuhkan kelembutan dari gelapnya hidup yang akan dijalaninya. Tuhan tau, bahwa anak dengan sejuta keburukan itu suatu hari akan bersifat keras karena hatinya gelap, maka ia mengirimkan kelembutan, untuk anak dengan sejuta keburukan itu. Bagi anak dengan sejuta keburukan, kelembutan adalah cahaya yang menyejukkan hatinya yang hitam, gersang.

Anak dengan sejuta keburukan itu, sebenarnya mungkin tidak se-buruk itu. Ia lurus, namun ia gagap sekali dalam bersikap. Awalnya dia menjalani hidup dengan antusias dan menyenangkan, seperti saat dalam kandungan. Namun kemudian, pelan- pelan daya kritisnya mulai mengidentifikasi, mengamati, dan mencoba menggambarkan dunia, dan jadilah anak dengan sejuta keburukan itu menjadi naif. Namun karena ini adalah pertama kalinya ia melihat dunia, ia menjadi sangat gagap dalam bersikap. Lahirlah sifat keras, untuk melindungi apa yang ia percaya, sekaligus bagian hati, imannya yang tinggal sezarrah, di lubuk hati terdalam. Mungkin dari situ, anak dengan sejuta keburukan itu memang menjadi buruk. Bagian dimana kehidupan ini ia jalani secara salah, namun benar dalam artian arah.

Kembali mengenai anak yang berhati lembut. Belasan abad yang lalu, Tuhan pernah menurunkan seorang manusia, yang dengan sifat lembutnya, agamaku hari ini, bisa membebaskan jutaan orang dari dunia, setelah lebih dari seribu tahun. Bagi sejarah, Ia berhasil melembutkan hati dari orang yang paling keras saat itu. Namun bagiku, dengan kelembutan dan kemurnian hatinya, ia dapat merasakan bahwa orang yang paling keras sekalipun, memiliki kelembutan, dan ia dapat menemukan titik kelembutan itu, memanusiakan orang itu.

Kembali ke masa kini. Anak yang berhati lembut itu, sebenarnya tidak terlalu kenal dengan masa lalu anak dengan sejuta keburukan itu. Namun ia tak pernah menilai anak dengan sejuta keburukan itu dengan kacamata peradaban materialistis. Ia hanya merasakan, dan menemani anak dengan sejuta keburukan itu. Kemudian, ia dapat mengenali setitik kelembutan, mungkin juga kebingungan, dan suara hati yang sejati dari anak dengan sejuta keburukan itu. Dengan segala kesalahan dan kehinaan yang dilakukan oleh anak dengan sejuta keburukan itu di dunia, anak yang berhati lembut itu terus melihat ke hati anak dengan sejuta keburukan itu. Ia bisa membedakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati dan akal si anak dengan sejuta keburukan itu, walaupun diluar dunia mengatakan lain.

Mungkin lama- lama ia kasihan, dan mengenali perasaan sepi yang menghentak dari anak dengan sejuta keburukan itu. Lalu ketika anak dengan sejuta keburukan itu menghampirinya setelah lama tak bertemu, dan memintanya menemani kesepian hatinya, anak yang berhati lembut itu, mungkin menangis dalam hati, kasihan, dan tidak tega untuk menolak. Ia tau, bahwa anak dengan sejuta keburukan itu, baru saja mengambil salah satu keputusan besar dalam hidupnya, yang menjadi titik baliknya, dan mungkin meninggalkan hal yang paling ia percaya selama ini dalam hidupnya. Anak yang berhati lembut itu bisa merasakan, bahwa anak dengan sejuta keburukan itu, sedang menangis, jauh di dalam temboknya yang tinggi, memeluk lututnya sendiri.

Anak dengan sejuta keburukan itu, memang masih dalam keburukannya. Namun anak berhati lembut itu terus menemaninya, sekalipun keburukannya tambah banyak, atau tambah sedikit. Anak berhati lembut itu bisa melihat, bahwa anak dengan sejuta keburukan itu berjalan pada arah yang benar, sekalipun masih kabur, dan kesalahan masih akrab membersamainya.

Bersama dengan anak berhati lembut itu, anak dengan sejuta keburukan itu tak bisa gunakan topengnya. Walaupun kadang tak tau itu apa, anak berhati lembut itu selalu bisa merasakan jika anak dengan sejuta keburukan itu gundah, dan imannya turun. Bahkan mungkin pernah tak beriman. Tapi anak berhati lembut itu tak pernah bersikap keras, ia selalu lembut kepada anak dengan sejuta keburukan itu. Sekalipun ia tak beriman, buruk, dan hina, anak berhati lembut itu tetap sabar menemaninya, karena ia tau bahwa sejatinya anak dengan sejuta keburukan itu tak buruk. Ia bersabar hidup dengannya, mendoakannya.

Anak yang berhati lembut itu, tak jarang khawatir, bahkan terkadang mendoakan anak dengan sejuta keburukan itu dengan menangis. Ia juga bersabar menahan untuk tidak ‘menasihati’ anak dengan sejuta keburukan itu. Ia tau, bahwa anak dengan sejuta keburukan itu, bisa menemukan kebenarannya sendiri. Ia tau, bahwa kesadaran itu tidak bisa dipaksakan, dan ia menyerahkan urusan tersebut pada Tuhan. Ia hanya ingin, agar anak dengan sejuta keburukan itu, sejauh- jauhnya ia bertualang, ia memiliki tempat pulang. Kalaupun ia sedang ingin menangis, ia tak perlu memeluk lututnya sendiri lagi.

Kadang anak dengan sejuta keburukan itu merasa, bahwa ia telah menemukan saudaranya tanpa ikatan darah. Yang mencintai sahabatnya, seperti mencintai dirinya sendiri. Anak dengan sejuta keburukan tersebut lalu tersenyum, tak heran bahwa anak berhati lembut itu dicintai oleh semua orang. Betul jika sebuah buku bilang, jika Rasulullah tidak lembut, maka cahaya Islam tidak bisa sampai kepada manusia hingga hari ini.

Mungkin seperti itu, hingga akhirnya suatu hari hati dari anak dengan sejuta keburukan itu melunak. Pelan tapi pasti. Cahaya kelembutan dari anak itu, lama- lama menerangi kalbu anak dengan sejuta keburukan itu, sedikit demi sedikit. Lama-lama, juga membuat hati anak dengan sejuta keburukan itu, melembut sedikit demi sedikit.

Entah apa skenario Tuhan, membuat anak dengan sejuta keburukan itu merasa beruntung, memiliki teman seperti anak yang berhati lembut itu. Bahkan dunia diluar mereka berdua, tak sedikit yang heran, bagaimana mungkin anak yang berhati lembut itu, bisa bersahabat dengan anak dengan sejuta keburukan itu.

Anak dengan sejuta keburukan itu suatu hari bersyukur, bahwa memang rencana Tuhan mendekatkannya dengan anak yang berhati lembut itu tepat. Kini, anak dengan sejuta keburukan itu menyadari, bahwa Tuhan menasihati anak dengan sejuta keburukan itu secara lemah lembut mengenai sifat lemah lembut dari anak yang berhati lembut itu. Kemudian, ketika kesadaran sedikit demi sedikit memperbaiki anak degan sejuta keburukan itu, ia mulai kembali merajut iman-nya, dengan acuan anak yang berhati lembut itu. Karena bagi anak dengan sejuta keburukan itu, anak yang berhati lembut itu mewarisi banyak sifat rasul, dimana salah satu yang paling besar adalah ke-lemah lembutannya. Sebuah sikap yang dulu dianggap remeh oleh anak dengan sejuta keburukan.

**

Tulisan pertama ini, didedikasikan untuk Anggita Cremonandra, anak yang berhati lembut itu.

Terimakasih, Tuhan, dengan dosaku yang menggunung, Engkau masih memberikanku sahabat seperti Gita. Bagiku, hal ini adalah salah satu anugerah terbesarku. Karena bagi makhluk sehina aku, bersahabat dengan Gita menaikkan derajatku. Alhamdulillah, Ya Allah, matur suwun sanget.

Anak yang berhati lembut

Anak yang berhati lembut